Saya (Pahoton) beri judul “I learned some very basic truths from a very old book” (The Story of Keith Reedy)

August 6th, 2008 by pahoton

Hello, I’m Keith Reedy

Most of the people in my home town knew me as the man who recorded Drinkin’
  Billy’s Beer. Or you might have known me as that vulgar blind man who drank
  too much and played and sang in just about every honky tonk tavern and night
  club in the Wabash Valley area. Some years ago that would have been true. I
  hope you will read the rest of this and allow me to share with you the changes
  that have taken place in my life.

Almost 18 years of my life were taken up with the sole task of trying to be
  the best I could possibly be at my profession which was singing and playing
  music, mostly country music. A person who can work for many years in taverns
  and night clubs and not become a part of what goes on around them is an exception
  indeed. I was not an exception. Before I was 20 years old, I became a part of
  the "I want what I want. To Hell with what everyone else wants" crowd.
  I had gained an attitude about life that left very little room for the wants
  and considerations of others. I kicked, scratched, clawed and practiced and
  finally began to achieve my goals one by one.

In my lifetime I have gained a good deal of ground as a professional musician.
  I traveled across the country for two years, booking out of Nashville, Tennessee
  all that time. I had a chance to share a stage with some of the nation’s top
  country artists and had a couple of records that were moderate regional successes.
  I had all I wanted to drink. I had the morals of an alley cat. I never had as
  much money as I wanted. I made more than my share of financial mistakes and
  would you believe I woke up one morning and asked myself: "What happened?"

After a bit of sober consideration, it was easy to see what had happened. My
  entire life up to that point had been a product of stinkin’ thinkin’. If you
  pour clean, clear water into a pitcher that is what you will pour out; but if
  you pour muddy, murky, foul smelling water into a pitcher, that is also what
  you will pour out. At this point I had discovered what had gone wrong. My next
  step was to find out why. I was playing what I thought was the only game in
  town. I didn’t know of any other way to live, and, until then, I was unwilling
  to learn about any other way.

The third step in the process took place when my soon to be wife, Suzie, and
  I started attending her church. Our only goal in attending that church was to
  get married in it.

Some months before, however, I had begun to lean on a power much greater than
  mine, without knowing it, I had begun to search for Christ.

After we were married, we began to attend the church quite often. Through the
  messages and patient explanations of a pastor, Paul Gordon, I began to learn
  about things that had never before concerned me, like the unbelievable peace
  and power available to a person because of Jesus Christ, as well as life after
  death. I learned how I could have this power, peace, and certainty in my own
  life. I learned that it was not necessary for me to give up any of my bad habits
  to accept Jesus Christ as my savior and to be accepted into the family of God,
  and that over the remaining years of my life, God will gently help me to remove
  those things from my life that have no place there.

I learned some very basic truths from a very old book, the Bible. I learned
  about Someone who knew who I was and what I was feeling…and what I wasn’t
  feeling inside all the time, someone who could give me relief from my pain,
  both mental and physical, on this earth and a new life after I die. I learned
  that by totally believing in Jesus Christ, these things, plus countless others,
  could be mine, and no one could ever take them away from me. I needed to understand
  that everyone is born with the nature and the ability to do wrong…"For
  all have sinned and come short of the glory of God" (Romans 3:23), and
  that the period of forever after my death, unless my direction was changed,
  would definitely be spent in a very real place called Hell…"For the wages
  of sin is death (Hell) (Romans 6:23a). "And death and Hell were cast into
  the lake of fire" (Revelation 20:14). "But the gift of God is eternal
  life through Jesus Christ our LORD" (Romans 6:23b). I learned that through
  one man’s unselfishness and death on a cross some 2000 years ago, my direction
  could be changed. "That if thou shalt confess with thy mouth the Lord Jesus,
  and shalt believe in thine heart that God hath raised him from the dead, thou
  shalt be saved" (Romans 10:9). I learned that no matter who I was or what
  I had done, all I had been lacking could be mine simply by believing in Jesus.
  If I believe in Jesus with all of my heart and ask Him to do so, that He would
  save my soul and change my life. So in the best way I knew I just began to talk
  to God in my own words something like, "Lord, I know I’m a sinner. Please
  forgive me for the things I’ve done. Jesus, please come into my life and help
  me to change things and take me to Heaven when I die."

It sounds too simple to be true, I know. But every one of the basic truths
  are simple.

Having read this, I’m sure you can see a lot of me in you. Read it carefully
  again and ask yourself, "What do I have to lose?" The final answer
  will be: Without the love and protection of God’s son, Jesus Christ, you have
  EVERYTHING to lose. With His love and guiding hand in your life, you have life
  eternal, a peace in your life right now, and an understanding of yourself and
  others that you never thought possible, to mention just a few things.

When you accept the Lord Jesus Christ into your life, don’t expect a clap of
  thunder and a bolt of lightning because chances are, it won’t happen. Keep in
  mind that God has planted a seed. Water it, nurture it…it will grow…you
  will grow. If you haven’t accepted the Lord Jesus Christ into your life, I pray
  that you will. Remember, just talk to Him in your own words!

In Christ service
  for God’s glory,

Keith Reedy


  If you choose to accept Christ in to your life drop me a line or give me a call
  and I will send you a little book on how to get started in the Christian life,
  it’s free, so is Christ’s love. Please! Just talk to Him, in your own words.

Mencintai

April 27th, 2008 by pahoton

Dari milis tetangga (anonim)

Mencintai apa yang telah terjadi, telah berlalu,
Mencintai apa yang akan terjadi, bisa terjadi,
dan yang terpenting adalah…
Mencintai apa yang kita peroleh, kita miliki, kita alami… saat ini
Saat ini…

Apa maksudnya?
Ya, banyak sekali orang yang mengatakan pada dirinya sendiri, bahwa
”kalau saya sudah punya uang lebih, saya pasti bahagia…”
”kalau karir saya sudah lebih baik, pasti saya lebih tenang daripada sekarang…”
dan masih banyak lagi kata-kata seperti itu

kenyataannya?
Adakah kepuasan diperoleh ketika mereka memperoleh lebih banyak uang?
Adakah kepuasan ketika karir menjadi lebih baik dari sebelumnya?
Akan muncul berbagai penghalang kebahagiaan, ketenangan, dan berbagai macam emosi positif, kapanpun… mengapa?

Karena kita memberi ”Syarat” pada kebahagiaan, ketenangan, dll. ”Syarat”? Ya, kita hanya bahagia, tenang, dll ketika kita sudah mengalami perbaikan dalam karir, keuangan, keluarga, dll, apakah itu bukan merupakan sebuah syarat? Dan coba tanyakan pada diri kita sendiri, ”syarat” yang kita tentukan itu tentu saja sulit sekali untuk tercapai, setiap kali kita mencapai titik yang kita tentukan, selalu timbul masalah lain yang baru (karena begitulah yang namanya kehidupan, selalu penuh dengan masalah dan solusinya, benar?).
Nah, ketika kita mencapai suatu titik yang kita inginkan dalam kehidupan (keuangan, karir, rumah tangga, hubungan, dll), dan baru kita melihat dan merasakan masalah di titik tersebut, maka akan muncul ”syarat” baru untuk pencapaian ketenganan, kebahagiaan,dll tersebut.
Lalu kapan kita bahagia?

Sebenarnya ada cara supaya kita bisa bahagia selalu, tenang selalu, yaitu dengan mencintai apa yang sedang dan telah kita lakukan.
Mencintai? Maksudnya?
Begini, ketika kita bisa mencintai apapun kondisi kita saat ini, dan apapun yang telah terjadi pada diri kita di masa lalu, itu adalah suatu bentuk keiklasan. Masuk akal bukan, ketika kita iklas untuk apapun yang telah, sedang, dan akan terjadi, maka kita merupakan manusia yang punya kecenderungan untuk bebas dari rasa stress dan depresi yang merusak?
Nah, banyak yang mengatakan ”iklaskan” berbagai hal di masa lalu maupun yang sedang menimpa diri kita saat ini.

Pertanyaan penting, mudahkah mengiklaskan sesuatu hal yang mengakibatkan sebuah kerugian, kegagalan, atau beban emosi pada diri kita?
Mudahkah mengiklaskan sesuatu ketika kita harus kehilangan sesuatu atau seseorang yang kita cintai?
Mudahkah mengiklaskan sesuatu ketika kita mengalami sebuah bekas yang tidak menyenangkan, melekat pada ingatan dan bahkan fisik kita seumur hidup?
Jawaban yang biasanya diberikan, TIDAK…
Salah satu cara untuk mengubah jawaban tersebut menjadi ”tidak mudah, tapi bisa, dan ada yang bisa kita pelajari dari situ” adalah:
Mengisi hari-hari dengan cinta,
Mencari apa yang bisa kita cintai dari pekerjaan yang kita lakukan, dengan melakukan hal yang sama, dengan cara yang ”agak” berbeda…
Mencari bentuk mencintai dari sisi yang lain, untuk pasangan kita yang sudah lama bersama kita, sehingga seringkali rutinitas kita anggap membuat rasa cinta kita perlahan-lahan memupus. Yang terjadi adalah, ketika kita terbiasa akan suatu hal, kita tidak lagi menganggap hal itu istimewa (walaupun sebetulnya tetap istimewa, biasanya kita rasakan begitu kita kehilangan). Coba lihat pasangan dengan cara yang berbeda, berkomunikasi dengan cara yang juga berbeda…

Mencintai apapun masalah, musibah, kesulitan, dan tantangan yang terjadi pada diri kita, baik yang sudah maupun sedang terjadi… karena ini semua adalah sebuah cara untuk membuat kita lebih dewasa, dan mampu untuk menemukan kebahagiaan2 baru dalam hidup kita di depan… Apakah kita terus bersedih atau bersusah hati, kalau seandainya, kita sudah mengetahui bahwa apapun yang terjadi pada diri kita, ada maksudnya? Dimana maksudnya itu adalah untuk kita mampu mencapai TUJUAN yang pernah kita impikan atau minta dalam doa kita?

Apapun yang sudah lewat di masa lalu kita tidak akan mampu menjadi sarana percepatan kita mencapai TUJUAN yang kita inginkan, kalau kita hanya menyesali dan menyimpan perasaan bersalah, bahkan amarah. Kalau kita ingin TUJUAN kita lebih cepat tercapai, cari tahu mulai dari sekarang, ”kenapa ya, kita mengalami kejadian itu?”, atau ”apa ya yang bisa saya dapat dari peristiwa itu?”

Mulai belajar mencintai apapun yang sedang kita lakukan, dan melakukan apa yang kita cintai, hari demi hari… Bagaimana? Temukan aspek2 baru yang bisa kita lihat, dari pekerjaan, hubungan dengan istri/suami, dengan anak, dengan teman, karir, dll. Ingat, pekerjaan kita akan tetap seperti itu, keluarga kita akan tetap seperti itu, dll apabila kita tetap menjalani semua itu dengan cara yang sama, dengan perasaan dan pola pikir yang sama.

“Love What You Do, Do What You Love”
Be Spontaneous, lakukan sesuatu dengan cara yang berbeda hari ini. Renungkan, dan temukan rasa cinta baru dalam hidup kita. (contoh: daripada hari ini naik lift ke kantor, coba tangga darurat, capek? Iya, tapi coba temukan inspirasi apa yang kita dapat. Tentang kesehatan, lingkungan, dll. Pasti dapat sesuatu? Anda yang menentukan).

Jadi, mencintai itu mudah? Mudah, yang sulit adalah menemukan apa yang bisa kita cintai, apa yang bisa kita pandang dengan cara yang berbeda hari ini.
Selamat menemukan cinta di hari ini…

MENEMBUS KETERBATASAN

January 29th, 2008 by pahoton

Kutu
anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya.
Namun, apa yang terjadi bila ia dimasukan ke dalam sebuah kotak korek api
kosong lalu dibiarkan disana selama satu hingga dua minggu? Hasilnya, kutu itu
sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak korek api saja!
Kemampuannya melompat 300 kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang.

Ini yang terjadi. Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api ia mencoba
melompat tinggi. Tapi ia terbentur dinding kotak korek api. Ia
mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus begitu sehingga ia mulai ragu akan
kemampuannya sendiri.

Ia mulai berpikir, "Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya
segini." Kemudian loncatannya disesuaikan dengan tinggi kotak korek api.
Aman. Dia tidak membentur. Saat itulah dia menjadi sangat yakin, "Nah
benar

kan

?
Kemampuan saya memang cuma segini. Inilah saya!"

Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih terus merasa
bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak korek api.
Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat. Kemampuan yang sesungguhnya
tidak tampak. Kehidupannya telah dibatasi oleh lingkungannya.

Sesungguhnya di dalam diri kita juga banyak kotak korek api. Misalnya anda
memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan memadai. Dia tipe orang yang
selalu takut tersaingi bawahannya, sehingga dia sengaja menghambat perkembangan
karir kita. Ketika anda mencoba melompat tinggi, dia tidak pernah memuji,
bahkan justru tersinggung. Dia adalah contoh kotak korek api yang bisa
mengkerdilkan anda.

Teman kerja juga bisa jadi kotak korek api. Coba ingat, ketika dia bicara
begini, "Ngapain sih kamu kerja keras seperti itu, kamu nggak bakalan
dipromosikan, kok." Ingat! Mereka adalah kotak korek api. Mereka bisa
menghambat perkembangan potensi diri Anda.

Korek api juga bisa berbentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna, tingkat
pendidikan yang rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagianya. Bila semua itu
menjadi kotak korek api maka akan menghambat prestasi dan kemampuan anda yang
sesungguhnya tidak tercermin dalam aktivitas sehari-hari.

Bila potensi anda yang sesungguhnya ingin muncul, anda harus take action untuk
menembus kotak korek api itu. Lihatlah Ucok Baba, dengan tinggi tubuh yang di
bawah rata-rata ia mampu menjadi presenter di televisi.
Andapun pasti kenal Helen Keller. Dengan mata yang buta, tuli dan
"gagu" dia mampu lulus dari

Harvard

University

. Bill Gates tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu menjadi
"raja" komputer. Andre Wongso, tidak menamatkan sekolah dasar namun
mampu menjadi motivator nomor satu di

Indonesia

.

Contoh lain Meneg BUMN, Bapak Sugiharto, yang pernah menjadi seorang pengasong,
tukang parkir dan kuli di Pelabuhan. Kemiskinan tidak menghambatnya untuk terus
maju. Bahkan sebelum menjadi menteri beliau pernah menjadi eksekutif di salah
satu perusahaan ternama.

Begitu pula dengan Nelson Mandela. Ia menjadi presiden Afrika Selatan setelah
usianya lewat 65 tahun. Kolonel Sanders sukses membangun jaringan restoran fast
food ketika usianya sudah lebih dari 62 tahun.

Nah, bila anda masih terkungkung dengan kotak korek api, pada hakekatnya anda
masih terjajah. Orang-orang seperti Ucok Baba, Helen Keller, Andre Wongso,
Sugiharto, Bill Gates dan Nelson Mandela adalah orang yang mampu menembus
kungkungan kotak korek api. Merekalah contoh sosok orang yang merdeka, sehingga
mampu menembus berbagai keterbatasan.

BREAK YOUR BORDER . . . . TOUCH THE SKY . . . . !

Kutipan: Anonim

July 30th, 2007 by pahoton

Pernah nggak sih Anda
ngerasain kalo hidup itu bener-bener ‘bad’
dan nggak berarti lagi … dan
berharap, coba kalo kita bisa ada di
kehidupan yang lain ! Saya akui, saya
cukup sering merasa begitu. Saya pikir,
hidup ini kayaknya cuma nambahin
kesulitan-kesulitan saya aja ! ‘Kerja
menyebalkan’, ‘hidup tak berguna’, dan
nggak ada sesuatu yang beres !!

Tapi semua itu berubah … sejak kemarin

Pandangan saya tentang hidup ini
benar-benar telah berubah !
Tepatnya terjadi setelah saya bercakap-cakap
dengan teman saya. Ia
mengatakan kepada saya bahwa walau ia mempunyai 2
pekerjaan dan
berpenghasilan sangat minim setiap bulannya, namun ia tetap
merasa
bahagia dan senantiasa bersukacita. Saya pun jadi bingung, bagaimana
bisa ia
bersukacita selalu dengan gaji minim itu untuk menyokong kedua
orang
tuanya, mertuanya, istrinya, 2 putrinya, ditambah lagi
tagihan-tagihan
rumah tangga yang numpuk !!!

       

Lalu ia menjelaskan bahwa itu semua
karena suatu kejadian yang
ia alami di India.
Hal ini dialaminya
beberapa tahun yang lalu saat ia
sedang berada dalam situasi yang berat.
Setelah banyak kemunduran yang ia alami

itu, ia memutuskan untuk menarik
nafas sejenak dan mengikuti tur ke
India. Ia mengatakan bahwa di India, ia
melihat tepat di depan matanya sendiri
bagaimana seorang ibu … MEMOTONG
tangan kanan anaknya sendiri dengan
sebuah golok !!
Keputusasaan dalam
mata sang ibu, … jeritan kesakitan dari seorang
anak yang tidak berdosa
yang saat itu masih berumur 4 tahun !!, terus
menghantuinya sampai
sekarang.

Anda mungkin sekarang bertanya-tanya, kenapa ibu itu begitu
tega
melakukan hal itu ? Apa anaknya itu ’so naughty’ atau tangannya
itu
terkena suatu penyakit sampai harus dipotong ?
Ternyata tidak !!!
Semua itu dilakukan sang ibu hanya agar anaknya dapat

…MENGEMIS … !!
Ibu itu sengaja menyebabkan anaknya cacat agar
dikasihani orang-orang saat
mengemis di jalanan !!

Kembali pada pengalaman sahabat saya itu, ia juga
mengatakan
bahwa setelah itu ketika ia sedang berjalan-jalan sambil memakan
sepotong
roti, ia tidak sengaja menjatuhkan potongan kecil dari roti yang ia
makan itu
ke tanah. Kemudian dalam sekejap mata, segerombolan anak kira-kira
7 anak
sudah  mengerubungi potongan kecil dari roti yang sudah kotor itu

Mereka berebutan untuk memakannya !! ( Suatu reaksi alamiah untuk
yang
kelaparan).

Terkejut dengan apa yang baru saja ia alami, kemudian
sahabatku
itu menyuruh guidenya untuk mengantarkannya ke toko roti terdekat.
Ia
menemukan 2 toko roti dan kemudian membeli
semua roti yang ada di kedua toko itu !

Pemilik toko sampai kebingungan,
tetapi ia bersedia menjual semua
rotinya. Kurang dari 100 Rupee dihabiskan
untuk memperoleh 400 potong roti ( Jadi
tidak sampai 0,25 / potong ) dan ia
juga menghabiskan kurang lebih 100
Rupee lagi untuk membeli barang keperluan
sehari-hari.
Kemudian ia pun berangkat kembali ke jalan yang tadi dengan
membawa satu
truk yang dipenuhi dengan roti dan barang-barang keperluan
sehari-hari
kepada anak-anak ( Yang kebanyakan CACAT ) dan beberapa
orang-orang
dewasa di situ ! Ia pun mendapatkan imbalan yang sungguh tak
ternilai harganya,

yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang-orang
yang kurang beruntung
ini !!  Saya sampai hampir menangis mendengarnya …
Untuk pertama kalinya
dalam hidupnya, ia merasa heran bagaimana seseorang
bisa melepaskan
kehormatan dirinya hanya untuk sepotong roti yang tidak
sampai 0,25
Rupee!!
Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, betapa
beruntungnya ia
masih
mempunyai tubuh yang sempurna, pekerjaan yang baik,
juga keluarga yang
hangat. Juga untuk setiap kesempatan dimana ia masih dapat
berkomentar
mana makanan yang enak, mempunyai kesempatan untuk berpakaian
rapi, punya
begitu banyak hal dimana orang-orang yang ada di hadapannya ini
… AMAT
KEKURANGAN !!
Sekarang aku pun mulai berpikir seperti itu juga !
Sebenarnya,
apakah hidup saya ini sedemikian buruknya ? TIDAK, sebenarnya
tidak
buruk sama sekali !!
Nah, bagaimana dengan Anda ? Mungkin di waktu
lain saat kamu mulai
berpikir seperti aku, cobalah ingat kembali tentang
seorang anak kecil yang HARUS

KEHILANGAN sebelah tangannya hanya untuk
mengemis di pinggir jalan ..!!

Banyak hal yang sudah kita alami dalam
menjalani hidup selama
ini, sudahkah kita BERSYUKUR ? Apakah kita mengeluh
saja dan selalu merasa
tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki
?

————————————————————————————————————
Jika
aku dapat meminta agar hidupku sempurna, itu merupakan godaan
yang
menggiurkan, namun aku akan terpaksa menolak, karena dengan begitu
aku
tidak  dapat lagi menarik pelajaran dari
kehidupan

(published by : max | from my Leader : Bentovani Nazar)